Langsung ke konten utama

Cinta Tak Harus Bersama

Heuheuheu.. Barapa kali putaran detik jam bergerak menuntun temannya silih berganti membawa kisah perjalanan ini. Tapi mengapa ia tak mampu membawa kabarmu kasih?. Mungkin itu yang sekarang ku herankan. Persemayaman mu di hatiku tak mungkin ku bangunkan, apalagi kubiarkan pergi. Hhmm.. sedikit sajak kusajikan untukmu yang tak kunjung datang. Biarlah waktu belum sempat membawa kabarmu. Sekarang biar angin yang menyampaikan salamku, kasih.

Salamku untukmu kasihku
dari dulu hingga kini
Salamku untukmu belahan jiwaku
selalu tertuju padamu

Waktu tak bisa berkata
tentang cinta kita
yang telah tiada
waktu juga tak bisa menghapus
tentang rindu kita
yang telah hangus

Lewat angin kuingin sampaikan
ku masih mencintaimu
lewat setitik cahaya kuingin sampaikan
ku masih merindukanmu

Jangan kau hapus aku dari jiwamu
jangan kau lelehkan lagi kenangan kita
meski kita tak bersama
bukankah cinta tak harus bersama?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOTULENSI

 Assalamualaikum wr. Wb... Ijin menyampaikan notulensi hasil musyawarah dalam Reoni Akbar & Halal bihalal IKSAR pada Hari Rabu, 02 April 2025 / 03 Syawal 1446 H di Aula Pondok Pesantren Roudlotuttholibin Silebu. *A. Pembahasan Struktural IKSAR*  1. Memutuskan estapet kepengurusan IKSAR dari H. Wendi kepada kepengurusan baru :           - Ust. Naim/Iim sbg Ketua           - Mang Albi sbg Sekretaris           - Mang Azat sbg Bendahara 2. Memutuskan Masa Bakti Kepengurusan IKSAR selama 3 tahun terhitung dari 02 April 2025 s/d 2028 *B. Pembahasan Program IKSAR* 1. Mengganti jadwal program bulanan (Kliwonan/Ratib) yang sebelumnya dilaksanakan setiap malam jumat kliwon menjadi malam jumat Legi (Malam jumat setelah jumat kliwon) dengan catatan menunggu persetujuan dari pondok pesantren. 2. Program tahunan Ceremoni Reoni Akbar diadakan 3 tahun sekali. Adapun untuk setiap tahunnya, diadakan halal bihalal sec...

Sewindu Kampung Ramadan Silebu; "berburu" takjil makin seru.

 Tiada hal paling menyenangkan selain "berburu" takjil menjelang buka puasa di bulan Ramadan, apalagi dihadapkan dengan puluhan pilihan menu takjil dan ratusan orang dengan energi yang sama. Hal ini yang akan kita rasakan ketika berkunjung ke salah satu desa di Kuningan utara.  Ada tempat unik ketika kita ngabuburit ke jalur perbatasan kabupaten Kuningan dengan Cirebon via kecamatan Pancalang dan Mandirancan, tepatnya di desa Silebu kecamatan Pancalang. Di sana terdapat pasar yang hanya buka setahun sekali, yaitu selama bulan Ramadan. Ia mirip dengan pasar pada umumnya, dipenuhi dengan pedagang, pembeli dan transaksi, tentu yang dijual sepenuhnya makanan dan minuman segar teman buka puasa. Makanya, ketika dibuka mulai pukul 15.00 WIB s/d 18.30 banyak yang mengatakan sensasi "berburu" takjil di Silebu itu berbeda, menyenangkan dan punya sensasi tersendiri. Ditambah dengan banyaknya jajanan kaula muda dan anak, "berburu" takjil dijamin makin terasa. Apalagi ...

Kampung Ramadhan dan Program NATADAYA Bupati

Di tengah wacana pembangunan desa yang kerap terjebak pada retorika program dan janji penataan, pemuda Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, justru menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu realisasi kebijakan. Melalui Program Kampung Ramadhan yang kini memasuki tahun ke-9, Karang Taruna Nirwana Silebu membuktikan bahwa alun-alun desa dapat hidup sebagai pusat ekonomi, budaya, dan spiritualitas—tanpa menunggu pembangunan fisik berskala besar. Ironisnya, apa yang mereka lakukan sejatinya sejalan dengan visi pemerintah daerah melalui program NATADAYA: penataan alun-alun desa sebagai pusat aktivitas ekonomi, wisata, dan budaya. Bedanya, NATADAYA masih berada pada tataran kebijakan yang belum sepenuhnya terealisasi, sementara Kampung Ramadhan telah berjalan konsisten hampir satu dekade. Pertanyaannya: apakah pemuda sedang mendahului kebijakan? Alun-Alun sebagai “Ruang Publik” yang Hidup Filsuf Jerman Jürgen Habermas dalam teorinya tentang ruang publik (public ...