Langsung ke konten utama

Kampung Ramadhan dan Program NATADAYA Bupati

Di tengah wacana pembangunan desa yang kerap terjebak pada retorika program dan janji penataan, pemuda Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, justru menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu realisasi kebijakan. Melalui Program Kampung Ramadhan yang kini memasuki tahun ke-9, Karang Taruna Nirwana Silebu membuktikan bahwa alun-alun desa dapat hidup sebagai pusat ekonomi, budaya, dan spiritualitas—tanpa menunggu pembangunan fisik berskala besar.


Ironisnya, apa yang mereka lakukan sejatinya sejalan dengan visi pemerintah daerah melalui program NATADAYA: penataan alun-alun desa sebagai pusat aktivitas ekonomi, wisata, dan budaya. Bedanya, NATADAYA masih berada pada tataran kebijakan yang belum sepenuhnya terealisasi, sementara Kampung Ramadhan telah berjalan konsisten hampir satu dekade.


Pertanyaannya: apakah pemuda sedang mendahului kebijakan?


Alun-Alun sebagai “Ruang Publik” yang Hidup

Filsuf Jerman Jürgen Habermas dalam teorinya tentang ruang publik (public sphere) menjelaskan bahwa ruang publik adalah arena diskursus di mana warga bertemu, berdialog, dan membangun kesadaran kolektif. Alun-alun desa, dalam konteks Indonesia, adalah bentuk konkret dari ruang publik tersebut.


Namun, ruang publik tidak hidup hanya karena ada bangunan atau hamparan tanah lapang. Ia hidup karena ada aktivitas, partisipasi, dan interaksi sosial.


Kampung Ramadhan di Silebu menghadirkan itu semua. Setiap tahun, rata-rata 80 lapak UMKM dan pedagang kaki lima memenuhi alun-alun desa. Tapi kegiatan ini bukan sekadar pasar musiman. Karang taruna membangun ekosistem: ada kajian keagamaan, lomba-lomba Islami, santunan sosial, hingga kegiatan kemasyarakatan lain yang secara sadar dirancang untuk mendatangkan arus pengunjung.


Dalam bahasa teori pembangunan, ini disebut demand creation—menciptakan keramaian melalui aktivitas sosial dan kultural, bukan hanya menyediakan ruang jualan.


Ruang Ketiga dan Energi Komunitas

Sosiolog Amerika Ray Oldenburg memperkenalkan konsep third place atau ruang ketiga—ruang di luar rumah (first place) dan tempat kerja (second place) yang menjadi titik temu sosial masyarakat. Ruang ketiga inilah yang memperkuat kohesi sosial dan membangun identitas komunitas.


Desa Silebu memiliki modal sosial yang unik: tujuh pondok pesantren serta peninggalan situs Hindu-Buddha. Kombinasi religiusitas dan sejarah ini menciptakan lanskap sosial yang kaya. Ketika alun-alun desa dihidupkan melalui Kampung Ramadhan, ia tidak hanya menjadi pasar sementara, tetapi ruang ketiga yang produktif—tempat santri, warga, pelaku UMKM, dan generasi muda berinteraksi.


Di sinilah kekuatan pemuda bekerja. Mereka tidak hanya mengisi ruang, tetapi menghidupkan makna ruang.


Kolaborasi sebagai Strategi Pembangunan

Pembangunan modern tidak lagi bertumpu pada pendekatan top-down. Teori governance partisipatif menekankan pentingnya kolaborasi multipihak: pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi sosial.


Karang Taruna Nirwana Silebu memahami ini. Mereka menggandeng lembaga desa, lembaga pendidikan, bahkan organisasi kemahasiswaan. Nilai kolaboratif ini membuat Kampung Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan sosial yang terus tumbuh.


Model ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pembangunan bukan hanya soal anggaran, melainkan soal jejaring sosial dan kepercayaan publik.


NATADAYA dan Tantangan Implementasi

Program NATADAYA Kabupaten Kuningan memiliki visi yang progresif: menjadikan alun-alun desa sebagai pusat ekonomi, wisata, dan budaya. Namun tantangan klasik kebijakan publik sering muncul pada tahap implementasi—mulai dari keterbatasan anggaran, prioritas pembangunan, hingga birokrasi teknis.


Kampung Ramadhan di Silebu secara substantif telah mempraktikkan tiga pilar NATADAYA:


Ekonomi: 80 lapak UMKM aktif setiap tahun.


Budaya dan religiusitas: kegiatan keagamaan dan sosial yang terstruktur.


Daya tarik kunjungan: arus masyarakat yang meningkatkan perputaran ekonomi lokal.


Artinya, tanpa disadari, pemuda telah menciptakan prototipe implementasi NATADAYA dalam skala desa.


Jika pemerintah daerah jeli, praktik ini dapat dijadikan model kebijakan berbasis komunitas (community-driven development), bukan sekadar proyek infrastruktur.


Pemuda sebagai Aktor Strategis, Bukan Pelengkap

Selama ini, pemuda sering ditempatkan sebagai pelengkap acara atau tenaga sukarela. Padahal, apa yang terjadi di Silebu menunjukkan bahwa pemuda mampu menjadi aktor strategis pembangunan.


Mereka mengorganisasi ruang, menggerakkan ekonomi, membangun jejaring, dan menjaga nilai-nilai religius serta sosial. Mereka membuktikan bahwa alun-alun desa tidak harus menunggu penataan fisik megah untuk menjadi pusat aktivitas ekonomi dan budaya.


Dalam konteks ini, Kampung Ramadhan bukan sekadar kegiatan musiman. Ia adalah pernyataan politik sosial: bahwa pembangunan desa bisa dimulai dari bawah, dari energi kolektif masyarakatnya sendiri.


Menjembatani Kebijakan dan Gerakan Sosial

Kini tantangannya adalah bagaimana pemerintah daerah dan pemuda dapat bertemu dalam satu visi yang sama. NATADAYA membutuhkan energi komunitas. Sementara gerakan pemuda membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih sistematis.


Jika kolaborasi ini terwujud, bukan mustahil alun-alun desa di Kabupaten Kuningan benar-benar menjadi pusat ekonomi, wisata, dan budaya seperti yang dicita-citakan.


Desa Silebu telah memberi contoh. Tinggal menunggu: apakah kebijakan akan menyusul jejak pemuda, atau tetap tertinggal di atas kertas?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOTULENSI

 Assalamualaikum wr. Wb... Ijin menyampaikan notulensi hasil musyawarah dalam Reoni Akbar & Halal bihalal IKSAR pada Hari Rabu, 02 April 2025 / 03 Syawal 1446 H di Aula Pondok Pesantren Roudlotuttholibin Silebu. *A. Pembahasan Struktural IKSAR*  1. Memutuskan estapet kepengurusan IKSAR dari H. Wendi kepada kepengurusan baru :           - Ust. Naim/Iim sbg Ketua           - Mang Albi sbg Sekretaris           - Mang Azat sbg Bendahara 2. Memutuskan Masa Bakti Kepengurusan IKSAR selama 3 tahun terhitung dari 02 April 2025 s/d 2028 *B. Pembahasan Program IKSAR* 1. Mengganti jadwal program bulanan (Kliwonan/Ratib) yang sebelumnya dilaksanakan setiap malam jumat kliwon menjadi malam jumat Legi (Malam jumat setelah jumat kliwon) dengan catatan menunggu persetujuan dari pondok pesantren. 2. Program tahunan Ceremoni Reoni Akbar diadakan 3 tahun sekali. Adapun untuk setiap tahunnya, diadakan halal bihalal sec...

Sewindu Kampung Ramadan Silebu; "berburu" takjil makin seru.

 Tiada hal paling menyenangkan selain "berburu" takjil menjelang buka puasa di bulan Ramadan, apalagi dihadapkan dengan puluhan pilihan menu takjil dan ratusan orang dengan energi yang sama. Hal ini yang akan kita rasakan ketika berkunjung ke salah satu desa di Kuningan utara.  Ada tempat unik ketika kita ngabuburit ke jalur perbatasan kabupaten Kuningan dengan Cirebon via kecamatan Pancalang dan Mandirancan, tepatnya di desa Silebu kecamatan Pancalang. Di sana terdapat pasar yang hanya buka setahun sekali, yaitu selama bulan Ramadan. Ia mirip dengan pasar pada umumnya, dipenuhi dengan pedagang, pembeli dan transaksi, tentu yang dijual sepenuhnya makanan dan minuman segar teman buka puasa. Makanya, ketika dibuka mulai pukul 15.00 WIB s/d 18.30 banyak yang mengatakan sensasi "berburu" takjil di Silebu itu berbeda, menyenangkan dan punya sensasi tersendiri. Ditambah dengan banyaknya jajanan kaula muda dan anak, "berburu" takjil dijamin makin terasa. Apalagi ...